MENGAPA MANUSIA MODERN MUDAH MENYERAH?

                                       Sumber Gambar: www.pexels.com

    Di negara berkembang, meningkatnya angkatan kerja tidak berbanding lurus dengan pertumbuhan ekonomi sehingga menimbulkan masalah baru, yakni terbatasnya kesempatan. Fenomena ini mendorong setiap individu untuk mengikuti  puluhan pelatihan yang menghasilkan sertifikat dan ujian kompetensi agar terlihat lebih moncer dari kandidat lain. Perpisahan di usia dewasa juga ikut andil dalam menyumbang stres. Baik perpisahan terhadap orang yang dicintai, hubungan jarak jauh dengan sahabat dekat, matinya hewan piaraan, pemutusan hubungan kerja, serta putus cinta berpengaruh pada kondisi psikis seseorang. 

    Siapa yang ketika ada ujian penting, mendadak perut melilit, mulas, dan mual? Reaksi tubuh manusia menghadapi tekanan fisik dan psikologis mampu menurunkan fungsinya dengan drastis, fenomena ini disebut reaksi katastrofe. Saat manusia dihadapkan pada tantangan terbayang-bayang situasi tragis, seperti kegagalan, bangkrut, ditinggalkan, dan kematian. Lalu, bagaimana cara menghadapi serangan itu? 

   Sebetulnya, rasa takut adalah bagian penting bagi manusia. Takut dapat membantu manusia bertahan hidup. Akan tetapi, ingat kata pepatah segala hal yang berlebihan tidak baik, kecuali uang. (hehehe) Dr. Yoon Hong Gyun dalam buku How to Respect Myself, menuliskan rasa takut manusia memiliki empat jenis. Takut mati karena kehilangan eksistensi fisik, perpisahan karena kehilangan dukungan serta perasaan terisolasi terhadap lingkungan, kegagalan karena berujung pada kekecewaan dan mempertanyakan kemampuan diri sendiri, dan terakhir takut kehilangan pesona diri karena perubahan fisik. Rasa takut sebaiknya diterima dan dihadapi dengan lapang dada agar tidak menjadi bom waktu yang bisa meledak kapan saja. 

    Guna mengatasi reaksi tersebut ada dua jalan yang harus ditempuh, yaitu upaya jangka pendek dengan mengatur napas dalam-dalam dan afirmasi positif. Sedangkan upaya jangka panjang adalah menerima dan mengakui dalam beberapa momentum bermuatan ketakutan. Kemudian berusaha mengurai ketakutan-ketakutan yang bersemayam di alam bawah sadar kita dengan menuliskannya di kertas. 

    Seneca pernah menulis dalam catatannya, “We suffer more in imagination, then we do in reality.” Di kepala kita seringkali memutar banyak skenario buruk yang belum tentu terjadi. Dan kabar baiknya, kita punya cara untuk memindahkan skenario di kepala dengan tulisan. Gunanya untuk mengurai dan merinci apa hal yang sebetulnya benar-benar kita takutkan sehingga kita bisa menilai secara sadar ketakutan konkret yang dicari solusi dan ketakutan abstrak yang hanya mengganggu pikiran. Penulis sekaligus Direktur sebuah agency favoritku, Edward Suhadi di bukunya yang berjudul “Mulai Mengerti” hal terburuk yang bisa kamu lakukan ketika stres adalah dengan rebahan diam dan terus memikirkannya.  Maka, resep ampuh mengusirnya jauh-jauh adalah crack the project, list the to-dos, address the weak points. Take notes, make mockups. Call a friend. Ask a mentor. Ketakutan harus dilucuti satu per satu dan jangan biarkan ia bersarang di dalam kepalamu!

Komentar

Postingan Populer