RAMALAN RADEN SALEH

 

                

    Banjir di Jabodetabek pada Maret 2025 melumpuhkan berbagai aktivitas warga hingga tiga hari. Dilansir dari BBC, salah satu warga Jakarta bernama Happy memperkirakan kerugian keluarganya ditaksir hampir Rp100 juta. Adapun banjir yang kini menjadi sorotan publik disebabkan atas tiga hal, perubahan tata guna lahan di hulu sungai, deforestasi dan alih fungsi lahan di kawasan puncak, dan tata ruang kota yang serampangan. Masyarakat menilai pemerintah tidak serius menangani banjir karena lebih parah dari tahun ke tahun. Kamis 06 Maret, bangunan di Taman Hibics Fantasy Puncak, Bogor disegel dan segera dihancurkan atas instruksi Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi. Pasalnya, taman hiburan ini berdiri di lahan resapan air. Ada oknum pejabat yang diduga memuluskan pembangunan tempat tersebut hingga menyebabkan air bah langsung meluncur ke pemukiman.

    Kerusakan alam atas ambisi individu/golongan sebetulnya sudah ada sejak puluhan bahkan ratusan tahun lalu. Lebih parahnya lagi, aktor dibalik perusakan alam datang dari oknum pemerintahan secara massif dan terstruktur. Perusakan alam sebetulnya sudah menjadi keresahan seorang maestro lukis bernama Raden Saleh Sjarief Bustaman. Pesan tidak tersirat itu disampaikan dalam lukisan berjudul Javanese Mail Station at The Bottom of Mount Megamendung, 1876.


Sumber gambar: wikipedia.com

    Alam yang begitu luas dalam lukisan ini menimbulkan sensasi tenang, grande, sekaligus misterius. Menurut Edmund Burke, perasaan kagum dan ngeri secara bersamaan disebut sublim.

The passion caused by the great and sublime in nature, when those causes operate most powerfully, is astonishment; and astonishment is that state of the soul, in which all its motions are suspended, with some degree of horror.

    Lukisan ini bentuk kritik Raden Saleh atas dua hal, pertama, soal diskriminasi yang dilakukan oleh pemerintah Hindia Belanda kepada pribumi. Kedua, kerusakan alam yang terjadi atas nama pembangunan. Pohon pada bagian tengah tumbuh tinggi, indah, dan menjulang. Sementara di sisi kiri, pohon terlihat hampir mati.

    Apabila mengacu pada lukisan tersebut, kita tidak banyak berubah. Justru diskriminasi dan pemenuhan hak asasi jauh lebih memprihatinkan. Menurut survei World Justice Project pada 2024 soal pemenuhan hak asasi, Indonesia menduduki peringkat 89 dari 142 negara. Artinya negara tidak dapat menjamin keamanan dan hak-hak dasar warganya secara menyeluruh.

    Tanpa perubahan nyata, generasi mendatang akan menanggung konsekuensi dari kelalaian hari ini. Mereka akan lahir di dunia yang lebih keras, penuh konflik sosial, dan ketakutan menghadapi bencana alam yang sewaktu-waktu akan datang. Sepertinya bencana seperti di film Interstellar bukan isapan jempol belaka.


Komentar

Postingan Populer