UNTITLED

 

      https://unsplash.com/@breakyourboundaries

Dua bulan ke belakang termasuk musim hidup yang sulit bagi saya. Pasalnya saya mengalami kecelakaan yang mengharuskan melalui beragam prosedur medis melelahkan. Sebelum kejadian naas itu terjadi, saya sedang galau berat karena ditinggal rekan kerja resign, kelelahan fisik dan mental yang berkepanjangan akibat beban pekerjaan, serta sedang menggebu-gebu mewujudkan sesuatu yang saya kira penting.  Saya sering menangis diam-diam dan mempertanyakan kenapa musibah ini datang pada saya, bukan orang lain saja. Saya mengisi hari-hari dengan mengutuk diri. 

Sebetulnya doa-doa dan dukungan berdatangan dari keluarga dan sahabat. Tapi, di masa itu saya memutuskan untuk menutup kedua telinga dari semua nasihat karena merasa mereka tidak tulus. They haven't walked a mile in my shoes. Gelap, suram, dan buram.

Saat iseng scroll Instagram selepas makan siang, muncul sebuah unggahan seorang dokter spesialis yang sedang berjuang melawan penyakit Hemothorax, di mana paru-parunya mengalami penurunan fungsi akibat penumpukan darah.  Saya kemudian bersilaturahmi ke akun beliau dan membaca satu per satu unggahan, mulai dari perjuangan menempuh pendidikan residen, menjalani peran sebagai dokter spesialis lintas kota, hingga berjuang untuk pulih dengan bantuan alat-alat yang ditempel di sekujur tubuhnya. Alih-alih merasa kasihan, saya malah merasa sangat kagum. Pasalnya, saya yang notabenenya jauh lebih muda saat dirawat tidak pernah terpikir untuk sekadar mendokumentasikan karena rentetan prosedur medis terasa begitu traumatis. Bahkan dalam satu unggahan, beliau menjelaskan cara kerja alat yang menempel di tubuhnya dengan sederhana. Lebih sering menjawab ramah komentar dari akun-akun yang mampir di unggahannya. Betapa tabahnya beliau menghadapi takdir.

Saya belajar kalau ketetapan Allah ibarat saya yang naksir baju di etalase toko, entah karena warnanya, modelnya, atau coraknya yang lucu. Saya begitu yakin baju itu akan sangat pas dan nyaman dipakai. Tapi setelah minta dicarikan ukuran yang sesuai, ternyata nihil. Lalu, saya yang masih ingin membawa pulang baju itu berusaha mencari model yang sama. Bajunya tak dapat, saya berujung kecewa. Sama halnya ketika dihadapkan dengan berbagai ketetapan Allah yang memberatkan hati, misalnya merelakan sesuatu yang sangat diinginkan, menunggu sesuatu yang tak kunjung datang, melepaskan sesuatu yang saya kira itu baik, dan menyaksikan sesuatu yang saya harapkan ternyata lebih dulu terwujud dalam hidup orang lain.

Akhirnya, saya sadar bahwa segala ketetapan murni atas campur tangan-Nya. Akan lebih menenteramkan hati jika segala yang datang saya anggap sebagai kebaikan dan perlindungan dari kekufuran, kesombongan, serta kerusakan yang lebih besar apabila hal itu terwujud sebelum waktunya.


Komentar

Postingan Populer