UNTITLED
Dua bulan ke
belakang termasuk musim hidup yang sulit bagi saya. Pasalnya saya mengalami
kecelakaan yang mengharuskan melalui beragam prosedur medis melelahkan. Sebelum
kejadian naas itu terjadi, saya sedang galau berat karena ditinggal rekan kerja
resign, kelelahan fisik dan mental yang berkepanjangan akibat beban pekerjaan,
serta sedang menggebu-gebu mewujudkan sesuatu yang saya kira penting. Saya sering menangis diam-diam dan
mempertanyakan kenapa musibah ini datang pada saya, bukan orang lain saja. Saya
mengisi hari-hari dengan mengutuk diri.
Sebetulnya doa-doa
dan dukungan berdatangan dari keluarga dan sahabat. Tapi, di masa itu saya
memutuskan untuk menutup kedua telinga dari semua nasihat karena merasa mereka
tidak tulus. They haven't walked a mile in my shoes. Gelap, suram, dan
buram.
Saat iseng
scroll Instagram selepas makan siang, muncul sebuah unggahan seorang dokter
spesialis yang sedang berjuang melawan penyakit Hemothorax, di mana paru-parunya
mengalami penurunan fungsi akibat penumpukan darah. Saya kemudian bersilaturahmi ke akun beliau
dan membaca satu per satu unggahan, mulai dari perjuangan menempuh pendidikan
residen, menjalani peran sebagai dokter spesialis lintas kota, hingga berjuang
untuk pulih dengan bantuan alat-alat yang ditempel di sekujur tubuhnya.
Alih-alih merasa kasihan, saya malah merasa sangat kagum. Pasalnya, saya yang
notabenenya jauh lebih muda saat dirawat tidak pernah terpikir untuk sekadar
mendokumentasikan karena rentetan prosedur medis terasa begitu traumatis.
Bahkan dalam satu unggahan, beliau menjelaskan cara kerja alat yang menempel di
tubuhnya dengan sederhana. Lebih sering menjawab ramah komentar dari akun-akun
yang mampir di unggahannya. Betapa tabahnya beliau menghadapi takdir.
Saya belajar
kalau ketetapan Allah ibarat saya yang naksir baju di etalase toko, entah
karena warnanya, modelnya, atau coraknya yang lucu. Saya begitu yakin baju itu
akan sangat pas dan nyaman dipakai. Tapi setelah minta dicarikan ukuran yang sesuai,
ternyata nihil. Lalu, saya yang masih ingin membawa pulang baju itu berusaha
mencari model yang sama. Bajunya tak dapat, saya berujung kecewa. Sama halnya
ketika dihadapkan dengan berbagai ketetapan Allah yang memberatkan hati, misalnya
merelakan sesuatu yang sangat diinginkan, menunggu sesuatu yang tak kunjung
datang, melepaskan sesuatu yang saya kira itu baik, dan menyaksikan sesuatu
yang saya harapkan ternyata lebih dulu terwujud dalam hidup orang lain.
Akhirnya, saya
sadar bahwa segala ketetapan murni atas campur tangan-Nya. Akan lebih
menenteramkan hati jika segala yang datang saya anggap sebagai kebaikan dan
perlindungan dari kekufuran, kesombongan, serta kerusakan yang lebih besar
apabila hal itu terwujud sebelum waktunya.
Komentar
Posting Komentar