Things that I Learned in my Late Twenties
Berhenti Melihat Segala Sesuatu sebagai Hasil
Di hari libur yang terik aku siap-siap tidur siang sambil nonton Youtubenya Gitasav. Aku baru sadar di tengah video kalau pembahasan ini udah pernah aku tonton entah kapan. Sayangnya, aku cuma inget pernah nonton tapi nggak nempel apapun di sana istilahnya mah kosongggg. Di video itu, Gitasav pakai turban, kayak kain dililit nutupin kepala dan rambut dengan bagian leher yang keliatan. Dan, Gitasav di tahun 2026 tampil beda dengan kerudung pasmina lilit nutupin kepala dan lehernya. Di situ aku ngerasa ada sesuatu yang kelewat disadari, aku & dia sama-sama berproses. Aku 2x nonton video di tahun yang berbeda baru ngerti konteks masalah yang diceritain. Dan, dia berproses dengan spiritual journey tentang jilbab yang nyaman untuknya. Aku dapat pemahaman baru untuk nggak ngeliat diri sendiri sebagai produk jadi. Selama masih hidup, belajar, mengalami luka, dan berdamai aku selalu punya kesempatan untuk revisi apa pun. Ayo kita coba lagi!
You Need to Live with the Consequences
Di tahun lalu, di blog ini aku berdoa minta Allah Swt. untuk kasih tanggung jawab dan kesempatan yang lebih luas. And, I did it. Dari akhir tahun sampai saat ini, Allah Swt. kasih side hustle yang menurutku nominalnya besar. Lalu, Allah Swt. titipkan tanggung jawab untuk pindah di divisi yang aku pengin jalanin dari lama. Nggak berhenti di situ, Allah Swt. kirim banyak orang-orang baik di sekelilingku. Kedengarannya semua menyenangkan, ya. Sampai di suatu malam, aku nangis sesenggukan karena capek kerja lebih dari 10 jam sehari. Aku nggak sempat buka reels kiriman teman d Instagram, nggak tau gosip seleb, bahkan abis tambal gigi lanjut kerja, jari telunjuk sakit banget karena keseringan scroll mouse laptop. Terus, abis nangis aku diem depan layar sampai 10 menit. Ada tuh kayak bisikan begini, bukannya ini sempet kamu doain waktu itu? pengin punya kerjaan lain, pengin dapet uang di luar gaji, pengin beli truk. Eh, yang terakhir agak kejauhan. Kalau dipikir-pikir, aku di umur 27 tahun pengin menikmati hasilnya. Ya nggak salah juga, sayangnya aku lupa kalau ada harga yang harus dibayar buat wujudin sesuatu. Contohnya, ada anak dewa Yunani namanya Phaethon. Dia minta sama bapaknya buat dibolehin naik kereta matahari karena pengin buktiin kalau dia anak dewa. Helios, ayahnya Phaethon udah kadung janji mau nggak mau dibolehin aja. Phaethon yang awalnya girang lama-kelamaan ngerasa tertekan karena kuda di kereta matahari nggak bisa dikendaliin dan mulai bakar rerumputan di bumi bahkan sampai bikin satu area jadi gurun.
Is the Table Even Safe for Me?
Aku pernah disuruh mikir keras pas kencan cuma gara-gara ditanya 'what do you bring to the table?'. Asli, waktu itu refleks ngerasa kayak lagi interview kerja, sampai sempat mikir, 'Lho, emang aku nggak punya apa-apa ya buat ditawarin?' Di situ aku nggak bisa jawab dan minta waktu buat mikir karena pertanyaan ini jadi trigger perasaan unworthy buatku. Sebelum tidur aku jadi ngitung apa aja pencapaian, materi, penampilan dan nggak ada yang mencolok. Aku hanyalah upik abu. Terus mikir gini, oh pantes dia tanya gitu karena aku emang nggak punya apa-apa.
Tapi tunggu dulu, selama kami menjalani proses saling mengenal aku selalu berusaha hadir 100%. Aku belajar untuk nggak bandingin karakter dia dengan siapa pun, aku nyoba untuk jadi ruang aman dan jadi tempat cerita soal apa saja. Artinya, aku berkontribusi secara emosional di dalam hubungan ini. Aku nggak datang dengan tangan kosong karena aku tahu untuk bangun hubungan butuh penerimaan, rasa hormat, dan welas asih.
Pertanyaan itu bisa dibalik dengan, apakah meja yang kamu sediakan ini cukup stabil dan aman untuk menampung kerentananku? Apa gunanya aku buka diri kalau meja yang kamu punya justru matahinnya dengan penghakiman, ego, atau sikap transaksional? Dibanding bangun hierarki kayak bos dan karyawan, kenapa meja nggak diibaratkan sebagai ruang di mana dua orang bisa sama-sama tampil apa adanya, naruh beban, saling dengerin, dan bangun tempat berteduh sama-sama dari nol? Akhirnya, aku sampai di kesimpulan kalau aku layak disayangi bukan karena bawa segudang keuntungan di hidup orang lain. Aku layak disayangi karena aku adalah manusia utuh yang diterima apa adanya.
.jpg)
Komentar
Posting Komentar