Tutorial Menjadi Manusia Lewat Film Studio Ghibli



Souce: Pinterest.com

 (Spoiler Alert!)

    Sepekan terakhir, aku lagi kegilaan marathon film-film besutan sutradara Hayao Mizayaki di Studio Ghibli. Film pertama yang aku tonton Porco Rosso, berlanjut ke Princess Mononoke, Howl’s Moving Castle, Castle in The Sky, Spirited Away, Kiki’s Delivery Service, Ponyo, dan terakhir My Neighbor Totoro. Menurutku, karya seni bisa diapresiasi dengan empat cara, yaitu konsep penulisan, konteks cerita, teknis, dan rasa yang dihadirkan saat menikmati filmnya atau pertanyaan yang muncul setelah filmnya usai. Dalam film karya Miyazaki aku merasa takjub dengan konteks cerita. Berikut tiga refleksi yang aku dapat setelah nonton film Studio Ghibli. 

  1. Isu Perempuan 

    Menurutku, Miyazaki termasuk feminis mentok. Gimana nggak, dalam banyak karakter perempuan di universe Studio Ghibli diperlihatkan sebagai manusia yang berdaulat atas dirinya sendiri dengan banyak pilihan karier, contohnya Fio Piccolo (Porco Rosso) perancang dan mekanik pesawat tempur. Lady Eboshi (Princess Mononoke) pengelola dan pemimpin benteng industri Tatara (Iron Town). Sophie Hatter (Howl's Moving Castle)  pembuat topi. Yubaba & Zeniba (Spirited Away)  pengelola bisnis pemandian air panas (Onsen) untuk para roh. Lisa, (Ponyo) pengasuh/perawat di panti jompo (senior care center).  Dulu, ada Psikolog namanya Colette Dowling ngeluarin istilah Princess Syndrome, yang jelasin soal kondisi psikologis  tentang ketakutan terselubung perempuan terhadap kemandirian, sehingga memunculkan harapan berlebih untuk diampu, diselamatkan, atau diperlakukan seperti putri yang selalu dilayani. Nah, karakter Miyazaki bedanya 180 derajat karena selalu punya sudut pandang bahwa anak perempuan itu seharusnya berani dan suka tantangan, contohnya di karakter Kiki, seorang penyihir yang punya misi bisa hidup mandiri pakai kekuatan sihirnya.     Afirmasi positif lewat film ini bikin anak perempuan punya keyakinan untuk bangun kapasitas memilih, bertindak, dan menyelesaikan masalah. Lewat banyak karakter Miyazaki punya pesan tersirat kalau perempuan nggak boleh nunggu diselamatkan pangeran berkuda putih, sihir ajaib, atau hal eksternal lainnya. Satu lagi yang menarik dari semua karakter perempuan dalam Studio Ghibli adalah cara mereka berpakaian lebih sopan dari anime-anime Jepang yang cenderung nonjolin bentuk tubuh tertentu dan pakai baju terbuka. 

  1. Peka dengan Isu Lingkungan 

    Orang Jepang punya cara pandang yang unik banget soal alam. Bagi mereka ngejaga kelestarian alam udah nyatu sama sama falsafah hidup, spiritualitas, dan budaya sehari-hari. Akar pemikiran ini udah ada ratusan tahun yang bikin Miyazaki terdorong untuk nyisipin core value ini ke karya-karyanya. Salah satu scene yang aku suka banget waktu Miyazaki nunjukin tempat tinggal Totoro di dalam pohon raksasa di tengah hutan. Ilustrasi hutan dibuat menyenangkan dengan cahaya matahari yang masuk di celah-celah dedaunan. Suasana hutan tempat tinggal Totoro jadi tempat yang hangat, megah, dan nyaman. Totoro sebagai penjaga hutan juga digambarkan sebagai karakter penolong berbulu abu-abu, punya kumis kayak kucing, dan badannya empuk buat Satsuki dan Mei. Visual Totoro itu kayak boneka hidup dan bikin beda banget sama animasi Indonesia yang gambarin kalau hutan itu tempatnya hantu dan dedemit pemakan manusia. Nggak berhenti di situ, Miyazaki gambarin tsunami dalam film Ponyo sebagai cara alam nunjukin keseimbangannya setelah sebelumnya ada banyak sampah di lautan. Dari Ponyo dan Totoro aku realized kalau hutan, lautan, dan manusia hidup berdampingan. Nggak sepatutnya kita berperilaku buruk dengan ngerusak keduanya sembarangan. Ide kelestarian alam yang jadi core value Miyazaki di banyak filmnya juga bikin orang tua gampang jelasin dampak perilaku manusia terhadap kelestarian alam dengan cara konkret dan sederhana. 

  1. Pemaknaan Nilai Diri

    Dalam berproses menjadi manusia dewasa, kita sering ngalamin kebingungan kalau dihadapkan di banyak pilihan. Atau, jadi dewasa bikin kita pesimistis ngeliat hidup karena banyak tau informasi. Di tengah usaha kita untuk  figure things out Miyazaki dalam banyak karyanya selalu nawarin kita untuk pulang. Masalah yang mampir sebagai orang dewasa udah pasti lebih kompleks dari sewaktu kita jadi remaja atau anak-anak. Ada ranah sistemik sejenis kemiskinan struktural yang perlu diselesaikan banyak pihak, namun beberapa masalah orang dewasa datang dari keraguan kita untuk memulai dan mengakhiri sesuatu. Menunda selesai dalam hubungan toxic karena takut sendiri, nggak pengin coba sayang sama diri sendiri karena gendut dan jerawatan, dan masih banyak lagi.

    Dalam cerita Kiki’s Delivery Service dia sempat nggak bisa terbang naik sapu dan nggak bisa lagi ngobrol sama kucing kesayangannya. Dia pikir kekuatan yang dia punya satu-satunya hal yang bisa dia banggakan. Kiki jadi menarik diri dari lingkungan. Terus, Kiki istirahat, ketemu teman, dan cari cara buat latihan biar kekuatannya terbang naik sapu ajaibnya bisa balik lagi. Sebagai orang dewasa, kalau aku kehilangan sesuatu yang udah dianggap identitas diri, kayak pekerjaan, jabatan tertentu, barang berharga, atau uang aku pasti kecewa. Padahal, semua yang kita anggap pencapaian itu cuma akibat dari kegigihan yang kita punya. Aku mulai diingetin sama Miyazaki kalau hal-hal di luar diri bisa ilang kapan aja. Dan yang tersisa dari diri kita adalah kegigihan, welas asih, dan keberanian buat mulai dengan banyak cara.  Aku sangat kagum gimana Miyazaki bikin karakter Sosuke di film Ponyo sebagai anak laki-laki yang begitu penyayang dan bertanggung jawab di usianya yang masih kecil. Entah gimana Gina, ibunya ngajarin Sosuke untuk nggak julid waktu Ponyo kegirangan makan daging ham pertama kali. This is the most incredible scene ever.

    Di usia yang hampir menginjak kepala orang ini, kita perlu ngeliat kalau false belief serta misi di dunia buatan Miyazaki adalah simulasi gimana kita yang punya persona atau peran sosial sebagai anak kecil, orang dewasa, orang tua memperlakukan tantangan hidup layaknya playground tempat kita eksplorasi dan bertumbuh jadi pribadi baru berkali-kali. 


Komentar

Postingan Populer